![]() |
| Photo ilustrasi yang dihasilkan AI |
SULSEL PEMBURUNEWS - MAROS - MASKAPAI Indonesia Air Transport (IAT) mengakui bahwa pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT sempat mengalami sejumlah kendala teknis pada mesin sebelum akhirnya dinyatakan jatuh di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Gangguan teknis terakhir dilaporkan terjadi pada Jumat 16/1/2026, sehari sebelum pesawat tersebut hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Capt Edwin, menyatakan bahwa masalah tersebut telah terdeteksi dan ditangani oleh tim teknisi perusahaan.
“Memang ada problem di engineering kami, tapi sudah kami tes. Problemnya kecil dan sudah diperbaiki hari Jumat,” ujar Capt Edwin dalam konferensi pers di Media Center Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
Namun, informasi lain mengungkap bahwa dua hari sebelum insiden, pesawat itu juga sempat mengalami kerusakan mesin di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Seorang pengelola layanan private jet di Bandara Halim yang melihat langsung proses perbaikan menyebutkan, pesawat tersebut sempat lepas landas, namun terpaksa kembali mendarat (return to base) akibat gangguan mesin.
“Pesawat sudah terbang meninggalkan Halim, tapi kembali mendarat karena ada kerusakan mesin,” ungkapnya. Ia menambahkan, pesawat ATR 42-500 itu sempat terparkir bersebelahan dengan armada miliknya selama proses perbaikan berlangsung.
Pesawat Disewa KKP untuk Misi Patroli
Pesawat turboprop tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto (53) dan merupakan armada yang disewa Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menjalankan misi patroli maritim.
Berdasarkan data Flightradar24, pesawat lepas landas dari Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB. Sementara data FlightAware mencatat titik terakhir pesawat terpantau radar pada pukul 12.22 WITA, sebelum akhirnya dinyatakan hilang kontak.
Pesawat mengangkut 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari KKP. Hingga saat ini, pihak berwenang belum merilis kondisi resmi seluruh korban.
Serpihan Pesawat Ditemukan di Gunung Bulusaraung
Setelah pencarian intensif, Tim SAR Gabungan menemukan sejumlah serpihan pesawat pada Minggu pagi (18/1/2026) di kawasan Gunung Bulusaraung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Serpihan pertama berupa jendela pesawat ditemukan pada pukul 07.46 WITA, disusul bagian badan pesawat berukuran besar pada pukul 07.49 WITA, dan bagian ekor pesawat di lereng bawah lokasi kejadian pada pukul 07.52 WITA.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyebut temuan ini sebagai petunjuk penting dalam mempersempit area pencarian.
“Penemuan serpihan ini menjadi clue vital. Fokus kami saat ini pengamanan lokasi, pendataan temuan, dan penyesuaian taktik operasi sesuai kondisi medan,” ujarnya.
Medan Ekstrem, SAR Minta Alat Mountaineering
Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan hutan vegetasi basah Karaengta, dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut. Medan terjal dan tebing karst menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi.
Tim SAR pun mulai meminta tambahan peralatan mountaineering demi menjangkau titik-titik sulit di lereng gunung.
“Beberapa lokasi berada di lereng curam dan membutuhkan peralatan khusus. Keselamatan personel tetap prioritas utama,” tegas Arif.
Sementara itu, hingga Minggu malam, sebagian tim SAR masih bertahan di Posko Leang-leang, Maros, sementara tim lain bergeser ke Balocci, Kabupaten Pangkep, menyusul laporan warga yang melihat puing pesawat dari arah puncak Gunung Bulusaraung.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa tim sempat mendeteksi satu titik merah yang dicurigai sebagai serpihan pesawat.
“Kami melihat satu titik merah yang patut dicurigai. Lokasi ini akan menjadi fokus pencarian lanjutan saat cuaca memungkinkan,” ujarnya.
Operasi SAR melibatkan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, AirNav, Paskhas, serta masyarakat setempat, dengan fokus utama pada evakuasi korban dan pengungkapan penyebab kecelakaan.
#pesawatATR42_500 #bulusaraung #pangkep #maros #sulsel

0 Komentar